Apa Itu Higiene Industri ?

Sektor industri di Indonesia telah mengalami perkembangan yang pesat. Kegiatan industri yang menggunakan bahan baku (material), bahan proses maupun produk jadi dapat menimbulkan bahaya terhadap kesehatan pekerja, masyarakat maupun kondisi lingkungan di sekitar industri tersebut. Untuk mencegah bertambahnya zat atau bahan berbahaya ke dalam lingkungan kerja, perlu dilakukan pengendalian bahaya.

Pengendalian bahaya di lingkungan kerja merupakan kegiatan yang dapat memberikan perlindungan, tidak hanya bagi pekerja tetapi juga lingkungan. Berhasil tidaknya upaya mengurangi zat/bahan kimia berbahaya dapat mempengaruhi konsentrasi zat/bahan kimia di udara dalam lingkungan kerja. Konsentrasi yang melebihi nilai ambang batas dapat membawa dampak mikro maupun makro, yaitu menurunnya derajat kesehatan pekerja maupun terjadinya polusi udara. Disinilah letak peranan higiene industri.

Higiene industri berperan dalam mencegah dan mengendalikan bahaya yang timbul akibat proses kerja, termasuk melindungi dan mencegah penurunan kesehatan pekerja, mencegah terjadinya pengrusakan dan mempertahankan pelestarian lingkungan yang berkesinambungan.

Peranan higiene industri dalam melindungi kesehatan pekerja sangat penting. Tindakan diagnosis dan pengobatan Penyakit Akibat Kerja (PAK) kadangkala relatif lebih mudah dilaksanakan. Namun hal tersebut tidak dapat mencegah timbulnya maupun mengurangi frekuensi terjadinya PAK. Oleh karena itu, perlu dilakukan perubahan dan perbaikan kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat sejalan dengan pelaksanaan diagnosis dan pengobatan PAK.

Preventive action should start much earlier,not only before the manifestation of any health impairment but even before exposure actually occurs.

Tindakan pencegahan hendaknya dilakukan tidak hanya sebelum terjadi cacat atau gangguan kesehatan namun perlu dilakukan sebelum terjadi pemajanan terhadap pekerja. Untuk itu, dibutuhkan pemantauan lingkungan kerja yang berlanjut agar bahan atau faktor berbahaya lainnya dapat dideteksi dan dihilangkan, atau dikendalikan sebelum menimbulkan gangguan kesehatan atau cacat akibat kerja.

Higiene industri memegang peranan yang penting. Oleh sebab itu, para pengambil keputusan, manajer dan pekerja itu sendiri bahkan ahli kesehatan kerja harus memahami pentingnya peranan tersebut. Dengan menerapkan higiene industri di tempat kerja diharapkan dapat tercapai derajat kesehatan pekerja yang tinggi dan kondisi lingkungan kerja yang sehat.

PRINSIP DASAR HIGIENE INDUSTRI

Higiene Industri adalah suatu ilmu mengenai pengenalan, pemantauan, pengevaluasian, dan pengendalian bahaya yang timbul dari tempat kerja, yang dapat mengganggu kesehatan dan kesejahteraan pekerja serta memberi dampak pada komunitas dan lingkungan sekitar.

Dalam perkembangannya, terdapat berbagai macam interpretasi mengenai definisi higiene industri. Namun, semuanya mempunyai pengertian dan tujuan dengan dasar yang sama, yaitu melindungi dan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan pekerja serta melindungi lingkungan melalui langkah pencegahan di tempat kerja.

Ahli Higiene Industri

Ahli higiene industri (Industrial Hygienist) memiliki fungsi utama untuk menurunkan atau menghilangkan pemajanan pekerja terhadap bahaya fisika, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial yang terdapat di industri.

Teknisi higiene industri (industrial hygiene technician) adalah orang yang mampu melakukan pengukuran di lingkungan kerja tetapi tidak memiliki kualifikasi untuk menginterpretasikan, mengambil keputusan, dan memberikan rekomendasi pengendalian seperti yang dilakukan oleh ahli higiene industri.

Higiene 1

Dalam menjalankan fungsinya, ahli higiene industri mengingatkan pimpinan tempat kerja mengenai bahaya potensial yang ada di lingkungan kerja, melakukan pengukuran, memberikan rekomendasi pengendalian rekayasa dan secara periodik melakukan pemantauan lingkungan.

Ahli higiene industri memiliki kualifikasi tertentu, termasuk pelatihan yang komprehensif mengenai ilmu fisika, kimia dan toksikologi; dengan latar belakang teknik, kesehatan, dan ilmu-ilmu biologi. Karena mendapatkan pelatihan khusus mengenai toksikologi maka ahli higiene industri sangat membantu dokter dan paramedis dalam menangani PAK.

Pengantar Toksikologi

Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai efek berlawanan dari bahan kimia, yang tidak menguntungkan di dalam tubuh makhluk hidup. Namun pada dasarnya, toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai racun.

Paracelsus said:

“All substances are poisons:

there is none which is not a poison.

The right dose differentiates a poison from a remedy.”

Jadi, penting sekali untuk paham mengenai hubungan antara dosis dan respons. Hubungan antara dosis dan respons dapat dilihat pada gambar berikut.

Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Toksisitas Bahan

Tubuh manusia mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima suatu zat atau bahan yang bersifat toksik. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan ini antara lain:

  • Komposisi kimia bahan

Beberapa bahan memiliki sifat lebih toksik dari bahan lain, misalnya strychnine  lebih toksik daripada glucose.

  • Bentuk fisik bahan

Suatu bahan bersifat lebih toksik jika bahan tersebut mudah larut atau dalam bentuk yang mudah dihirup masuk sistem pernapasan. Umumnya berkaitan dengan jalur masuk bahan dan daya absorbsinya.

  • Jumlah bahan

Semakin besar jumlah bahan toksik, semakin besar pula bahaya dan akibatnya terhadap tubuh.

  • Konsentrasi bahan

Semakin tinggi konsentrasi bahan, semakin besar akibat yang ditimbulkannya.

  • Ukuran partikel

Ukuran partikel bahan adalah sangat penting, terutama melalui sistem pernapasan. Semakin kecil ukuran partikel, semakin besar kemungkinan bahan masuk ke dalam alveoli.

  • Jalur masuk bahan ke tubuh

Jalur masuk zat ke dalam tubuh juga dapat mempengaruhi toksisitasnya di dalam tubuh. Jalur masuk zat (port de’entrée) ke dalam tubuh adalah sebagai berikut.

  1. Permukaan kulit (skin absorption) – Penting terutama bahan pelarut (solvents) karena sifatnya yang lipofilik. Sama halnya dengan logam-organik yang dapat diserap oleh kulit.
  2. Sistem pernapasan (inhalation) – Merupakan jalur yang relatif paling berbahaya dibanding jalur masuk lainnya. Paru-paru jika digelar luasnya sebesar lapangan bola.
  3. Saluran percernaan (ingestion) – Merupakan jalur yang relatif paling aman dibandingkan kulit dan pernapasan karena adanya organ hati dan ginjal yang berfungsi mendetoksifikasi racun.
  4. Ada/tidaknya bahan toksik lain – Beberapa bahan yang kurang toksik dapat menjadi bersifat toksik jika berkombinasi dengan suatu kebiasaan (sinergi), misalnya bahan karsinogenik seperti kadmium dan asbestos akan mengakibatkan toksisitas yang lebih berat pada perokok.
  5. Lamanya pemajanan – Beberapa efek yang terjadi akibat pemajanan bahan kimia :
1)    Akut

:

Terpajan oleh bahan kimia selama < 24 jam
2)    Sub akut

:

Terpajan berulang-ulang oleh bahan kimia selama ± 1 bulan
3)    Sub kronik

:

terpajan berulang-ulang oleh bahan selama 1 – 3 bulan
4)    Kronik

:

Terpajan oleh bahan kimia selama > 3 bulan

Beberapa faktor Individu yang Mempengaruhi Pemajanan terhadap Bahan Toksik

  1. Genetik
  2. Umur
  3. Status kesehatan
  4. Hipersensitivitas atau alergi
  5. Higiene dan sanitasi perorangan
  6. Kehamilan dan menyusui

PROGRAM HIGIENE INDUSTRI

Kegiatan dalam Higiene Industri, tahapan yang perlu dilakukan dalam menerapkan higiene industri:

  1. Pengenalan bahaya; merupakan proses identifikasi bahaya kesehatan yang mungkin ada di lingkungan kerja.
  2. Pemantauan bahaya; meliputi pengukuran ambien, biologi dan efek kesehatan.
  3. Evaluasi bahaya; merupakan proses penilaian pemajanan dan pengambilan keputusan mengenai tingkat risiko terhadap kesehatan
  4. Pencegahan dan pengendalian bahaya; merupakan proses penyusunan dan penerapan strategi untuk menghilangkan atau menurunkan bahan berbahaya dan faktor lain yang ada di tempat kerja sampai mencapai nilai batas yang bisa diterima.

The ideal approach to hazard prevention is anticipated and integrated preventive action.

Pengenalan Bahaya di Lingkungan Kerja

Definisi Bahaya – Bahaya di tempat kerja (workplace hazard) dapat didefinisikan sebagai  setiap kondisi yang dapat mempengaruhi kesejahteraan atau kesehatan pekerja.

Tujuan Pengenalan Bahaya adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai keseluruhan kondisi tempat kerja melalui pengidentifikasian zat/bahan berbahaya serta pekerja yang berpotensi terpajan zat/bahan tersebut.

Identifikasi bahaya merupakan dasar kegiatan higiene industri. Hasil identifikasi bahaya diperlukan dalam menyusun rencana evaluasi bahaya, strategi pengendalian serta menentukan prioritas tindakan perbaikan. Dalam identifikasi bahaya, perlu juga diketahui karakteristik sumber dan perubahan sifat kontaminan di lingkungan kerja.

Bahaya di lingkungan kerja dapat berupa bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial. Beberapa bahaya dapat dengan mudah diketahui, seperti iritan, dimana efek iritasi dapat segera terlihat begitu kulit terkena bahan iritan. Namun, ada bahan yang sulit diidentifikasi, misalnya logam berat (Pb, Hg, Cd, Mn), yang menunjukkan efek setelah pekerja terpajan selama bertahun-tahun. Suatu bahan toksik sekalipun kemungkinan tidak menunjukkan efek berbahaya pada konsentrasi rendah pada pekerja yang terpajan. Oleh karena itu, dasar pengenalan bahaya adalah identifikasi zat/bahan di tempat kerja, pemahaman mengenai risikonya terhadap kesehatan serta kondisi yang memungkinkan terjadi pemajanan.

Identifikasi dan Klasifikasi Bahaya

Beberapa teknik yang dapat dipakai untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan bahaya di lingkungan kerja, antara lain:

No single technique is a clear choice for everyone

Keberhasilan penggunaan teknik identifikasi tersebut tergantung pada:

  • tujuan penyelidikan
  • besar/luasnya tempat kerja
  • jenis kegiatan industri
  • kompleksitas kegiatan operasi produksi

Tiga komponen dasar dalam identifikasi dan klasifikasi bahaya, yaitu:

  1. Karakteristik tempat kerja.

Contoh: tenaga kerja (jumlah, jenis kelamin, usia); jenis industri (pabrik, konstruksi, perkantoran, rumah sakit atau pertanian); jenis kegiatan/proses produksi (pembagian menurut departemen, seksi atau urutan proses/tahapan produksi, mulai bahan baku sampai produk jadi); fasilitas; material yang digunakan dan buangan yang dihasilkan.

  1. Pola pemajanan (exposure patterns).

Faktor yang mempengaruhi pola pemajanan, antara lain:

  • frekuensi kontak,
  • intensitas pemajanan,
  • waktu pemajanan,
  • ukuran luas ruangan,
  • jalur pemajanan
  • jumlah pekerja
  • sistem ventilasi (pengendalian rekayasa)

It might be necessary to start by focusing on working tasks with high potential to cause harm even if the exposure is of short duration.

Perbedaan jenis pekerjaan, cara kerja dan jam kerja juga dapat mempengaruhi pola pemajanan.

  1. Evaluasi bahaya.

Dampak kesehatan yang timbul akibat adanya bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial dan fisika di tempat kerja harus diteliti dan dievaluasi secara epidemiologis, toksikologis, klinis dan mempertimbangkan kondisi lingkungan.

Beberapa sumber informasi mengenai gangguan kesehatan akibat produk atau zat/bahan yang digunakan dapat diperoleh dari buku teks K3, database toksisitas atau gangguan kesehatan, MSDS, literatur atau hasil penelitian.

Higiene 2

Bahaya Fisika

Bising (noise) – Adalah bunyi yang tidak diinginkan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pekerja. Efek akut akibat bising, a.l. gangguan berkomunikasi, menurunnya konsentrasi, dan mengganggu kinerja. Pemajanan pada level tinggi (> 85 dBA) dapat mengakibatkan kerusakan sementara atau kronis (tuli).

Contoh: industri penerbangan, industri pengecoran logam, perkayuan, tekstil, logam.

Vibrasi – Pekerjaan manual yang menggunakan powered tools dikaitkan dengan gejala gangguan peredaran darah peripheral, yang dikenal dengan   “Raynaud’s phenomenon” atau  “vibration-induced white fingers”  (VWF). Getaran alat dapat mengganggu sistem saraf peripheral, yaitu menurunkan kemampuan cengkeram, cedera tulang belakang, dan gangguan tulang punggung. Contoh: contract machines, mining loaders, fork-lift trucks, pneumatic tools, chain saws.

Radiasi Pengion – Menimbulkan kanker, termasuk leukemia. Pemajanan yang berlebihan menimbulkan dermatitis pada tangan dan gangguan sistem hematologi (darah). Contoh: reaktor nuklir, radiasi sinar-X, radioisotop, partikel akselerator.

Radiasi Non-Ion – Terdiri dari radiasi UV, sinar tampak, infra merah (katarak), laser (kerusakan mata dan kulit), medan elektromagnetik (microwaves dan frekuensi radio) (kanker), dan radiasi frekuensi rendah.

Contoh: radiasi ultraviolet (arc welding dan cutting, desinfektan); radiasi infra merah (tungku, glassblowing); Laser (komunikasi, operasi, konstruksi).

Bahaya Kimia

Pada dasarnya, bahan kimia masuk ke dalam tubuh melalui jalur pernapasan, absorpsi kulit, atau pencernaan dan menimbulkan efek akut, kronik atau keduanya.

Korosi (Corrosive) – Menimbulkan kerusakan pada daerah yang terkena bahan kimia. Umumnya merusak kulit, mata dan saluran pencernaan. Contoh: asam kuat, alkali, fosfat.

Iritasi (Irritation) – Menimbulkan radang (inflamasi) pada jaringan tubuh. Iritasi kulit dapat menyebabkan terjadinya reaksi eksema atau dermatitis. Iritan yang menyerang saluran pernapasan dapat menimbulkan sesak napas, radang dan oedema. Contoh: Kulit (asam, alkali, pelarut (solvents), minyak (oils); saluran pernapasan (aldehid, debu alkaline, amonia, nitogen dioksida, klorin, bromine,ozon).

Reaksi Alergi (allergic reactions) – Menimbulkan reaksi alergi pada kulit atau saluran pernapasan. Reaksi alerg ibaru akan timbul setelah terjadi proses sensitisasi. Contoh: Kulit (formaldehid, logam (kromium, nikel), pelarut organik, terpentin); saluran pernapasan (isocyanate, serat, formaldehid, debu tropis, nikel).

Asfiksi (Asphyxiants) – Menimbulkan gangguan pada oksigenasi jaringan. Ada 2 jenis asfiksi:

  1. Simple asphyxiants : Menurunnya kadar oksigen di udara sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhan tubuh. Kadar oksigen normal adalah 20% dan tidak boleh kurang dari 19,5%. Kadar oksigen menurun karena didesak oleh beberapa jenis gas.

Contoh: methane, ethane, hidrogen, helium.

  1. Chemical Asphyxiants : Mencegah tranportasi oksigen  dalam tubuh dan oksigenasi darah atau mencegah oksigenasi pada jaringan tubuh. CO lebih mudah terikat hemoglobin (Hb) dibandingkan O2 sehingga O2 kalah.

Contoh: CO, nitrobenzene, hidrogen sianida, hidrogen sulfida.

Kanker (cancer) – Contoh: benzene (leukemia); vinyl chloride (liver angio-sarcoma);  2-naphthylamine, benzidine (kanker kandung kemih); asbestos (kanker paru, mesothelioma); debu kayu (nasal sinus adenocarcinoma).

Reproduksi (reproduction) – Mengganggu fungsi seksual dan reproduksi individu. Contoh: mangan, karbon disulfida, merkuri, monometil dan etil eter dari etilen glikol). Mengganggu pertumbuhan, contohnya cacat lahir. Bahan kimia beracun bagi embrio (embryotoxic) dan fetus (foetotoxic) dapat menimbulkan keguguran, contohnya senyawa organik merkuri, CO, Pb, thalidomide, pelarut (solvents).

Keracunan Sistemik (systemic poison) – Menimbulkan cedera pada organ tertentu atau gangguan sistem tubuh.

Contoh: Otak (pelarut, Pb, Hg, Mn); Sistem Saraf Peripheral (n-heksana, Pb, Arsen, karbon disulfida); Sistem pembentukan sel darah (benzene, etilen glikol eter); Ginjal (kadmium, Pb, Hg); Paru-paru (silika (silikosis), asbestos (asbestosis), debu batu bara (pneumoconiosis)).

Bahaya Biologi

Adalah debu organik yang berasal dari berbagai sumber makhluk hidup, seperti virus, bakteri, jamur, protein hewan atau bahan dari tanaman, misalnya serat alamiah. Bahaya biologi terdiri dari 2 kelompok penyebab, yaitu:

  1. Non-infeksius; terdiri dari viable organisms (hidup terus), toksin biogenik dan alergen biogenik.
  2. Infeksius

Viable Organisms dan toksin biogenik – Organisme ini termasuk fungi, spora, dan mikotoksin; sedangkan toksik biogenik termasuk endotoksin, aflaktoksin, dan bakteri. Contoh: bakteri dan jamur gram positif dan gram negatif. Pekerja berisiko termasuk pekerja pabrik benang/pakaian, pengelola limbah, dll. Contoh penyakit: bisinosis, grain fever, Legionnaire’s disease.

Alergen Biogenik – Termasuk fungsi, protein hewani, dan enzim. Alergen banyak terdapat pada lingkungan industri a.l. proses fermentasi, pabrik obat, bakery, pabrik kertas, pengolahan kayu (saw mills) dan bio-teknologi (pembuatan enzim dan vaksin). Orang yang sensitif, terpajan oleh alergen akan menunjukkan gejala alergi rhinitis (selaput lendir hidung), konjungtivitis (mata) atau asma (wool, bulu hewan,  butir gandum,  tepung). Alergi alveolitis ditandai dengan gejala gangguan napas akut seperti batuk, sakit kepala dan nyeri otot, yang dapat mengarah pada fibrosis paru kronis. Contohnya: farmer’s disease, bagassosis, “bird fancier’s disease”, humidifier fever.

Infeksius – Penyakit akibat kerja karena agen infeksius biasanya tidak umum. Pekerja yang berisiko, contohnya pekerja rumah sakit, laboratorium, petani, pekerja rumah potong, dokter hewan, petugas kebun binatang dan tukang masak. Contoh: Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, tuberkulosis, anthrax, brucella, tetanus, chlamydia psittaci, salmonella.

Bahaya Ergonomis

Disebabkan karena kurangnya prosedur pengangkatan beban dan posisi mengangkat yang salah,  desain alat yang kurang tepat, pencahayaan dan pengaturan suhu yang tidak sesuai.

Bahaya Psikososial

Psikogenik seperti histeria massal yang banyak terjadi pada pekerja wanita.

Pemantauan Higiene Industri

Pemantauan tempat kerja dilakukan oleh tim, yang terdiri dari:

  1. ahli higiene industri
  2. dokter kesehatan kerja
  3. paramedis kesehatan kerja
  4. safety officer
  5. ahli toksikologi (toxicologist)
  6. engineer

Pemilihan metode pemantauan tergantung pada kondisi lingkungan kerja. Namun, secara umum ada 3 metode yang dapat digunakan yaitu:

  1. pemantauan medis (Health Effect Monitoring) – Lawrey

tujuan: untuk mendeteksi ada/tidaknya gangguan kesehatan pekerja akibat pemajanan kontaminan di tempat kerja dengan cara melakukan pemeriksaan kesehatan dan uji biologis.

  1. pemantauan lingkungan (ambient monitoring)

tujuan: untuk mendokumentasikan sumber dan jenis kontaminan yang berpotens memapar pekerja dengan cara melakukan pengukuran konsentrasi kontaminan di udara dan pengambilan sampel bahan.

  1. pemantauan biologi (biological monitoring)

tujuan: untuk mendokumentasikan penyerapan kontaminan ke dalam tubuh serta mengkorelasikannya dengan konsentrasi kontaminan di lingkungan dengan cara melakukan pengukuran zat/bahan berbahaya atau metabolitnya dalam darah, urin, atau hembusan napas pekerja.

Pengambilan Sampel (Sampling)

Sebelum melakukan pengukuran, ahli higiene industri perlu mengetahui:

  1. tujuan pengambilan sampel (sampling purposes)
  2. strategi pengambilan sampel (sampling strategies)

Tujuan pengambilan sampel adalah untuk:

  1. mengevaluasi pemajanan terhadap setiap pekerja, antara lain:
  • evaluasi pemajanan individu terhadap bahan toksik yang bersifat akut atau kronik,
  • tanggapan terhadap keluhan pekerja mengenai kesehatan da udara di tempat kerja,
  • sebagai baseline data pemajanan untuk program pemantauan jangka panjang,
  • mengetahui kesesuaian dengan peraturan pemerintah,
  • evaluasi efektivitas rekayasa atau pengendalian proses,
  • evaluasi pemajanan akut untuk penanganan keadaan darurat,
  • evaluasi pemajanan terhadap limbah berbahaya,
  • evaluasi dampak proses kerja terhadap pemajanan,
  • evaluasi pemajanan terhadap pelaksanaan tugas individu,
  • investigasi penyakit kronis, seperti keracunan timah hitam dan merkuri,
  • investigasi hubungan pemajanan di tempat kerja dengan penyakit akibat kerja,
  • melaksanakan studi epidemiologis.
  1. mengevaluasi sumber kontaminan dan udara ambien di tempat kerja, antara lain:
  • analisa kebutuhan untuk pengendalian rekayasa, seperti sistem ventilasi,
  • evaluasi dampak modifikasi peralatan dan proses kerja,
  • evaluasi efektivitas rekayasa atau pengendalian proses,
  • evaluasi emisi dari peralatan atau proses kerja,
  • respon terhadap udara di dalam ruangan, penyakit dan keluhan mengenai udara di tempat kerja,
  • evaluasi emisi dari limbah berbahaya,
  • investigasi terhadap penanganan keadaan darurat,
  • melaksanakan studi epidemiologis.

Strategi Pengambilan Sampel

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan strategi  pengambilan sampel, yaitu:

  1. obyek sampel (orang/pekerja, peralatan, proses kerja, zat/bahan),
  2. lokasi pengambilan sampel (area atau sumber sampel),
  3. lamanya pengambilan sampel,
  4. frekuensi pengambilan sampel (jumlah hari),
  5. jumlah atau besar sampel,
  6. metode pengambilan sampel (metode analisa).

Standar Pemajanan Lingkungan Kerja (Occupation Exposures Limits, OEL’s)

Berbagai negara telah banyak mengembangkan standar pemajanan melalui inhalasi dan pemajanan biologis oleh kontaminan fisik dan kimia. Sampai sekarang terdapat lebih dari 60.000 jenis bahan kimia yang telah dipergunakan dan ± 600 diantaranya telah disusun standarnya. Beberapa macam standar pemajanan yang dipergunakan:

  1. TLVs (ACGIH) : Threshold Limit Values atau Nilai Ambang Batas (NAB) adalah nilai konsentrasi bahan yang diijinkan ada pada suatu lingkungan kerja.

Ada 3 jenis TLVs, yaitu:

  • TLV – TWA (Time Weighted Average) adalah konsentrasi zat di udara yang dapat diterima oleh pekerja yang terpajan tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak lebih dari 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. dan TLV-TWA merupakan perlindungan bagi pekerja terhadap terjadinya efek kronis.
  • TLV – STEL (Short Term Exposure Limit) adalah konsentrasi maksimum yang dapat memapar pekerja selama 15 menit secara terus menerus tanpa mengalami gangguan kesehatan. dan TLV – STEL merupakan perlindungan bagi pekerja terhadap terjadinya efek akut.
  • TLV – C (Ceiling) Adalah konsentrasi tertinggi yang diijinkan dan TLV – C merupakan perlindungan bagi pekerja terhadap terjadinya asfiksi atau bahan kimia yang menimbulkan iritasi.
  1. RELs = Recommenced Exposure Limits – Merupakan standar pemajanan yang dikeluarkan oleh the National Institute for Occupational Safety & Health (NIOSH).
  1. BEIs (ACGIH)= Biological Exposure Indices; Nilai Ambang Batas Biologik
  2. PELs (OSHA) = Permissible Exposure Limits;
  3. MACs = Maximal Allowable Concentrations;
  4. HBLVs = Health-based Limited Values – Merupakan standar yang dikeluarkan oleh WHO. Setiap negara dapat mengadopsi HBLVs dan menyesuaikannya dengan kondisi di negaranya.
  1. Corporate Limits Value

 Evaluasi Higiene Industri

Evaluasi higiene industri adalah kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh ahli higiene industri (industrial hygienists) untuk mendeteksi dan menentukan tingkat pemajanan pekerja terhadap bahan berbahaya di tempat kerja.

Evaluasi higiene industri meliputi kegiatan:

  1. Analisis hasil pengukuran kontaminan fisika, kimia, biologi, ergonomik dan psikososial;
  2. interaksi dan konsultasi dengan para ahli medis (dokter perusahaan);
  3. studi epidemiologi, yang mencakup kegiatan:
  • evaluasi pengendalian pengukuran, termasuk APD rekayasa, dan administratif, untuk menentukan efektivitas kegiatan,
  • evaluasi kondisi ergonomis dengan melakukan observasi di tempat kerja.

Dalam kegiatan pemantauan, udara merupakan objek, yang pada umumnya sering dideteksi dan diukur untuk mendapat gambaran mengenai tempat kerja. Hal ini disebabkan karena udara:

  1. melalui saluran pernapasan, merupakan jalur masuk utama yang penting dalam perpindahan zat/bahan kimia dan biologi yang bersifat toksik untuk masuk ke dalam tubuh;
  2. Merupakan media perambatan bagi bunyi, temperatur, kelembaban dan bahaya fisik lainnya.

Namun ruang lingkup kegiatan evaluasi tidak hanya mendeteksi dan mengukur kontaminan tetapi diperluas lagi, yaitu meliputi:

  1. memastikan kesehatan dan keselamatan pekerja,
  2. melakukan perbandingan hasil pengukuran tempat kerja dengan standar yang berlaku (Occupation Exposure Limits, OEL’s).

Pengendalian Bahaya di Lingkungan Kerja

Setelah bahaya dikenal dan dievaluasi, tindakan intervensi  (metode pengendalian) dapat segera dilakukan. Hal penting dalam pengendalian risiko adalah menentukan jenis pengendalian sesuai dengan bahaya yang ada karena dengan pengendalian bahaya yang efektif rantai yang menghubungkan antara manusia dengan sumber penyakit (zat/bahan berbahaya) dapat diputuskan (lihat gambar).

Ada 3 kategori pengendalian yang digunakan dalam higiene industri:

  1. pengendalian rekayasa (engineering controls)
  2. pengendalian administrasi (administrative controls)
  3. alat pelindung diri, APD (personal protective equipment, PPE).

Higiene 3

Pengendalian Rekayasa 

Pengendalian rekayasa  adalah perubahan terhadap proses atau peralatan kerja yang dapat mengurangi atau menghilangkan kejadian pemajanan terhadap zat/bahan berbahaya.

Beberapa cara pengendalian rekayasa adalah:

  • ventilasi (baik ventilasi umum maupun lokal)
  • isolasi (memberi pembatas (barrier) antara pekerja dnegan zat/bahan)
  • substitusi (mengganti dengan bahan yang kurang toksik, kurang mudah terbakar, dan lain-lain)
  • mengganti proses (menghilangkan tahapan/proses yang berbahaya)

Pada pengendalian bising, misalnya memasang dinding dengan bahan kedap suara, pemisahan gedung (isolasi), dan memasang alat peredam bunyi pada exhaust.

Engineering controls are the most effective methods of reducing exposures. They are also, often, the most expensive.

Proses Pengendalian Administrasi

Pengendalian administrasi adalah perubahan terhadap cara pekerja menyelesaikan pekerjaannya.

Misalnya berapa lama pekerja terpajan selama bekerja atau perubahan pada cara kerja seperti perbaikan posisi tubuh waktu bekerja untu k mengurangi pemajanan. Jadual kerja, jam istirahat diatur untuk mengendalikan pemajanan.

Pemakaian APD

Alat Pelindung Diri (APD) merupakan perlengkapan yang disediakan dan dipergunakan oleh pekerja pada saat melakukan suatu pekerjaan tertentu. Contohnya: respirator (respirators), pelindung mata (chemical goggles), sarung tangan (protective gloves) dan pelindung muka (faceshields).

Sebaiknya penggunaan APD baru dilakukan apabila pengendalian rekayasa sudah tidak efektif lagi mengendalikan pemajanan sampai pada tingkat yang aman atau apabila pengendalian rekayasa yang dibutuhkan terlalu mahal biayanya.

Beberapa Faktor yang Perlu Dipertimbangkan dalam Pengendalian

Kadangkala beberapa metode pengendalian dikombinasikan untuk menurunkan pemajanan sampai tingkat yang aman.

Whatever methods are selected, the intervention must reduce the exposure and resulting hazard to an acceptable level.

Namun ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode pengendalian, antara lain:

  1. efektivitas pengendalian
  2. kemudahan penggunaannya oleh pekerja
  3. biaya yang dibutuhkan
  4. kelengkapan informasi mengenai bahan/material
  5. nilai ambang batas pemajanan (OELs)
  6. frekuensi pemajanan
  7. jalur masuk pemajanan ke dalam tubuh
  8. peraturan-peraturan mengenai metode pengendalian tertentu. (Contoh : asbestos handlers.)

Dalam hal ini dapat disimpulkan secara umum bahwa higiene industri meliputi kegiatan pengenalan, evaluasi (pengukuran dan pemantauan) dan pengendalian terhadap bahaya fisik, kimia, biologi, ergonomik, dan psikososial yang ada di lingkungan kerja. Penanganan bahaya tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai macam faktor, termasuk metode pengukurannya, baik dengan cara melakukan pemantauan kondisi lingkungan (udara ambien), pemantauan biologis (pekerja) dan efek kesehatan. Oleh karena itu, dalam upaya untuk menurunkan dan menghilangkan potensi bahaya di lingkungan kerja diperlukan kerjasama diantara semua personil di tempat kerja. Tidak hanya ahli higiene industri atau pun mereka yang terlibat dalam kegiatan higiene industri tetapi juga manajemen dan seluruh pekerja.

Loading...

2 Comments on “Apa Itu Higiene Industri ?”

Tinggalkan Balasan