Cidera Pada Kepala

50% dari kematian karena trauma yang berhubungan dengan trauma kepala, dan lebih dari 60% kematian trauma pada kendaraan bermotor diakibatkan oleh cidera pada bagian kepala.

Untuk menyangka sebuah cidera pada kepala nilailah dengan seksama keadaan kerusakan benda / barang yang dibentur oleh kepala korban atau kerusakan kendaraan yang berhubungan dengan korban.

Gerakan yang terjadi pada trauma kepala :

  • Kepala yang menabrak benda diam sering mnyebabkan injury otak dan tengkorak yang multiple.
  • Bagian kepala yang membentur langsung benda diam akan mengalami kemungkinan fraktur tulang dan otak di balik tulang itu mengalami memar ( contusio )
  • Bagian yang berlawanan dengan benturan langsung bisa mengalami perdarahan akibat dari peregangan jaringan di tempat itu
  • Pukulan atau benda bergerak terhadap kepala yang sedang diam, akan menyebabkan fractur pada daerah yang terpukul ( terimpak), jika fragment tulang berlanjut menekan otak maka kontusio atau bahkan laserasi otak dapat terjadi

Gambaran Klinis

Klasifikasi :

Cedera kepala diklasifikasikan dalam beberapa aspek, secara prakatis dikenal 3 deskripsi klasifikasi yaitu berdasarkan :

 1 . Mekanisme cedera kepala.

  • Cedera kepala tumpul, berhubungan dengan kecelakaan mobil / motor, jatuh atau pukulan benda tumpul
  • Cedera kepala tembus, disebabkan oleh peluru atau luka tusuk
  • Adanya penetrasi selaput dura menentukan apakah suatu cedera termasuk cedera tembus atau cedera tumpul.

2. Beratnya

  • GCS penilaian secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum untuk menilai beratnya cedera kepala.
  • GCS 3 – 8 dikatakan koma dimana penderita tidak mampu melaksanakan perintah, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak dapat membuka mata.
  • GCS 15 dikatakan sadar dimana penderita mampu membuka kedua mata dengan spontan, mematuhi perintah dan berorientasi baik.

3. Morfologi

  • GCS penilaian secara kuantitatif kelainan neurologis dan dipakai secara umum untuk menilai beratnya cedera kepala.
  • GCS 3 – 8 dikatakan koma dimana penderita tidak mampu melaksanakan perintah, tidak dapat mengeluarkan suara dan tidak dapat membuka mata.
  • GCS 15 dikatakan sadar dimana penderita mampu membuka kedua mata dengan spontan, mematuhi perintah dan berorientasi baik.

Secara morfologi cedera kepala dibagi atas :

Fraktur kranium,

Dapat terjadi pada dasar atau atap tengkorak, dapat berbentuk garis / bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fraktur dasar tulang tengkorak ditandai :

  • Racoon eyes sign
  • Battle’s sign
  • Kebocoran CSS (rembesan cairan CSS di hidung atau di telinga)
  • Paresis nervus fasialis
  • Lesi intra kranial

Keadaan yang mungkin terjadi pada trauma kepala

  • Perdarahan epidural (hematoma epidural)

Terjadi karena pembuluh darah antara duramater dan permukaan dalam tengkorak robek, umumnya akibat robekan arteri meningeal media. Trauma akibat dari kecepatan lemah misanya ; kena tinju, bola baseball, robekan arteri countercoup atau akibat lacerasi karena duramaternya tertarik dan robek Epidural hematom cepat menghasilkan peninggian ICP, gejalanya ; hemiparese berlawanan dengan kepala yang terkena, mengeluh rasa pusing dan mengantuk.

  • Perdarahan subdural

Biasanya terjadi kerusakan otak dibawahnya.

  1. Acut Subdural hematoma, memberi gejala dalam 24 jam, umumya akibat kecelakaan dengan kecepatan tinggi.
  2. Subacute Subdural hematoma, memberi gejala 25 – 65 jam setelah kejadian, akibat high velocity impact.
  3. Chronic Subdural hematoma, bisa mulai bergejala beberapa minggu sampai bulan setelah kejadian trauma ringan atau trauma yang tidak disadari oleh penderita.
  • Kontusio (memar otak)
  1. Akibat decelerasi atau accelerasi yang hebat sering mengakibatkan kerusakan jaringan otak atau pembuluh darah atau bahkan laserasi.
  2. Bila jaringan otak yangb memar cukup luas, maka peninggian ICP bisa terjadi. Kehilanagn kesadaran 5 menit bahkan lebih.
  3. Ada defisit memori dan defisit neulogis.
  4. Mekanisme trauma kepala perlu diketahui dengan baik untuk memprediksi berat ringannya atau fraktur tengkorak, karena diagnosa dengan Xry cukup sulit.
  5. Fraktur Basis kranii didaerah muka atau depan menyebabkan racoon’s eyes, didaerah basis belakang ditandai dengan battle’s sign. Tanda lain dari fractur basis cranii adalah adanya rembesarn liquor atau darah dari hidung dan telinga.
  6. Gejala yang paling umum adanya kejang
  7. Umunya karena luka penetrasi seperti luka tembak atau dasar otak terseret di dasar tulang tengkorak.
  8. Akibat otak yang dikocok (gegar), tanpa disertai kerusakan otak yang berarti.
  9. Ditandai dengan kehilangan kesadaran sebentar, penderita kelihatan cemas dan bertanya pada hal-hal yang tidak perlu.
  • Fractur (Retak tulang tengkorak)
  • Hematom intracerebral
  • Contusio ( Commosio cerbri = gegar otak )

Dalam penanganan cedera kepala upayakan jangan terjadi “ secondary brain demage “ Informasi yang perlu diketahui pada semua kasus cedera kepala adalah :

  1. Umur dan biomekanik cedera
  2. Status pernafasan dan kardiovaskuler
  3. Hasil evaluasi neurologis :
  • Tingkat kesadaran
  • Reaksi pupil
  • Lateralisasi kelemahan ekstremitas
  • Ada tidaknya cedera non cerebral yang menyertai
  • Hasil evaluasi diagnostik
  • CT scan atau Xr kepala tidak boleh menghambat konsultasi atau transfer ke ahli bedah

Penanganan Sebelum Sampai Di Rumah Sakit Atau Fasilitas Yang Lebih Memadai

I. Pada pertolongan pertama :

  • Perhatikan imobilisasi kepala leher, lakukan pemasangan neck collar, sebab sering trauma kepala disertai trauma leher.
  • Pada kasus berat mungkin diperlukan pemasangan ETT
  • Pasang BACK BOARD ( spinal board)
  • Sediakan suction untuk menghindari penderita aspirasi karena muntah.
  • Hentikan perdarah dengan melakukan penekanan pada daerah luka sebelum dilakukan penjahitan situsional.
  • Perdarahan kepala yang tidak terkontrol akan mengakibatkan syock. Atasi syok dengan pemasangan IV canule yang besar (bila perlu 2 line ), beri cairan yang memadai. (lihat penatalaksanaan hemoragik syok)
  • Pemberian obat-obatan lasix, manitol dilapangan tidak dianjurkan, begitu pula obat penenang tidak boleh diberikan tanpa supervisi dokter.
  • Hyperventilasi dengan oksigen 100 %, monitor tingkat sat.O2 dan CO2

II. Penatalaksanaan di Rumah Sakit.

  1. Begitu diagnosa ditegakan, penanganan harus segera dilakukan
  2. Cegah terjadinya cedera otak sekunder dengan cara :
  • Pertahankan metabolisme otak yang adekuat
  • Mencegah dan mengatasi hyper tensi
  • Mempertahankan kebutuhan metabilisme otak

Iskemia otak atau hypoxia terjadi akibat tidak cukupnya penyampaian oksige ke otak, metabolisme perlu oksigen dan glucosa.

  • Usahakan PaO2 > 80 mmHg
  • Pertahankan PaCO2 26 – 28 mmHg
  • Transfusi darah mungkin diperlukan sebagai “ oxygen carrying capacity”

Mencegah hypertensi intra cranial, Hypertensi ini dapat terjadi akibat :

  • Masa lesi
  • Pembengkakan otak akut
  • Odema otak

Cara mengatasi HT :

Lakukan hypocapnia

  • Konsentrasi Co2 arteri mempengaruhi sirkulasi otak
  • Co2 meningkat terjadi vasodilatasi sehingga menigkatkan volume intrakranial
  • Co2 menurun terjadi tekanan intra kranial menurun

Tindakan hyperventilasi :

  • Menurunkan intra cerebral acidosis
  • Meningkatkan metabolisme otak
  • Anjurkan hyperventilasi dan pertahankan Pco2 antara 26 – 28 mmHg
  • Hati-hati pada saat melakukan tindakan intubasi

Kontrol cairan

  • Cegah overhidrasi
  • IV jangan hypoosmolar
  • Jangan dilakukan loading
  • Diuretic :
  1. Manitol menurunkan volume otak dan menurunkan tekanan intra kranial
  2. Dosis 1 gr / kg BB IV cepat
  3. Furosemid 40 – 80 mg IV (Dewasa)
  4. Lakukan observasi dengan ketat
  5. Steroid
  6. Tidak direkomendasikan pada cedera kepala akut

Manifestasi lain pada cedera kepala

Kejang

  • Tidak selalu diikuti epilepsi kronik
  • Tidak perlu penanganan khusus , kecuali jika berkepanjangan atau berulang

Therapy :

  • Diazepham 10 mg IV
  • Phenytoin 1 gr IV kemudian 50 mg IM
  • Jika kejang menetap :
  1. Phenobarbita
  2. Anestesi

Gelisah

  • Gelisah sering dijumpai pada cedera otak atau cerebral hypoxia
  • Dapat oleh sebab oleh :
  1. Rasa sakit
  2. Buli-buli penuh
  3. Bandage / cast terlaku ketat à Atasi penyebabnya
  4. Terjadi severe agitasi : Chloprometazine 10 – 25 mg IV
  • Hypertermia
  • Meningkatkan resiko pada :
  1. Metabilosme otak meningkat
  2. Level Co2 meningkat
  3. Atasi dengan :
  • Hypothermia Blanket
  • Chlorpromazine

Kriteria untuk observasi dan perawatan :

  1. Post trauma amnesia
  2. Kesadaran yang menurun
  3. Riwayat kehilangan kesadaran
  4. Nyeri kepala sedang atau berat
  5. Foto tampak fractur linier atau kompresi, benda asing di otak, air fluid levele
  6. Ada tanda fractur basisi
  7. Cedera berat ditempat lain
  8. Tidak ada yang menemani di rumah
  9. Ada tanda fractur basisi
  10. Cedera berat ditempat lain
  11. Tidak ada yang menemani di rumaAda tanda fractur basisi
  12. Cedera berat ditempat lain
  13. Tidak ada yang menemani di rumah

Loading...

Tinggalkan Balasan